Penulis: Cintya Arum Pawesti

Apa Itu Visa Pasif dan Kenapa Banyak WNI Memilihnya? – Jumlah WNI yang ingin menetap di luar negeri terus bertambah setiap tahunnya.

Ada yang ingin menikmati masa pensiun di negeri orang, mengelola aset dari kejauhan, atau menjalani gaya hidup sebagai pekerja jarak jauh.

Di tengah tren ini, satu istilah semakin sering muncul di kalangan komunitas ekspat, yaitu visa pasif.

Apa itu visa pasif, dan kenapa makin banyak WNI yang melirik opsi ini?

Artikel ini membahas mulai dari definisi, jenis-jenisnya, syarat pengajuan, hingga alasan mengapa visa pasif kian diminati.

Apa Itu Visa Pasif dan Kenapa Banyak WNI Memilihnya?

Visa pasif adalah izin tinggal yang diberikan oleh suatu negara kepada warga asing yang ingin menetap di sana tanpa masuk ke pasar kerja lokal.

Pemegang visa ini boleh tinggal selama memenuhi syarat finansial yang ditetapkan, baik berupa bukti penghasilan pasif, dana tabungan yang mencukupi, maupun pemasukan dari luar negeri.

Kata “pasif” mengacu pada sifat penghasilan, bukan tingkat aktivitas sehari-hari.

Pemegang visa pasif tetap bisa beraktivitas, bersosialisasi, atau mengelola investasi.

Yang tidak boleh adalah mengambil pekerjaan dari entitas lokal di negara tersebut.

Visa pasif hadir dengan berbagai nama tergantung negaranya, di antaranya:

  • Retirement Visa (Visa Pensiun) di Thailand, Malaysia, Filipina, dan Portugal
  • Passive Income Visa atau Financial Independence Visa
  • Non-Lucrative Visa di Spanyol
  • Digital Nomad Visa di Georgia, Estonia, dan Kosta Rika
  • MM2H (Malaysia My Second Home) di Malaysia

Baca Juga: AI Bisa Gantikan Penerjemah? Bisa Kecuali di 5 Hal Ini

Jenis-Jenis Visa Pasif yang Populer di Kalangan WNI

1. Visa Pensiun (Retirement Visa)

Visa ini ditujukan bagi mereka yang sudah memasuki usia pensiun atau memiliki dana pensiun yang memadai.

Thailand menjadi negara tujuan paling diminati WNI, dengan syarat saldo rekening minimal 800.000 Baht (sekitar Rp 350 juta) atau penghasilan bulanan minimal 65.000 Baht.

Malaysia lewat program MM2H juga menjadi pilihan, meski sejak 2021 persyaratannya diperketat dengan saldo minimal RM 1,5 juta dan penghasilan bulanan RM 40.000.

2. Digital Nomad Visa

Visa ini untuk pekerja jarak jauh yang penghasilannya berasal dari klien atau perusahaan di luar negara tujuan.

Negara yang menawarkan program ini antara lain Georgia, Portugal, Kosta Rika, dan Uni Emirat Arab, masing-masing dengan syarat yang berbeda.

3. Non-Lucrative Visa

Spanyol menyediakan visa ini bagi siapa saja yang ingin tinggal tanpa bekerja secara lokal.

Pemohon perlu membuktikan penghasilan pasif atau simpanan yang cukup untuk biaya hidup.

Cocok bagi mereka yang punya pendapatan dari investasi, sewa properti, atau royalti.

4. Investor/Passive Residency Visa

Sejumlah negara memberikan izin tinggal kepada individu yang menanamkan modal dalam bentuk properti, obligasi, atau deposito, tanpa kewajiban berbisnis aktif di sana.

Portugal Golden Visa dan Yunani Golden Visa adalah contoh yang paling dikenal di Eropa.

Syarat Umum Pengajuan Visa Pasif

Meski tiap negara punya aturannya sendiri, ada beberapa dokumen yang hampir selalu diminta:

  1. Bukti Keuangan berupa rekening koran, sertifikat deposito, atau laporan portofolio yang memperlihatkan saldo atau penghasilan minimum.
  2. Asuransi Kesehatan dengan polis yang berlaku di negara tujuan dan memenuhi nilai pertanggungan minimum.
  3. Paspor Masih Berlaku minimal 6 hingga 12 bulan ke depan.
  4. SKCK sebagai bukti tidak ada riwayat kriminal.
  5. Surat Pernyataan Tidak Bekerja Lokal yang menyatakan pemohon tidak akan mencari pekerjaan di negara tersebut.
  6. Dokumen Pendukung seperti akta lahir, akta pernikahan, atau ijazah, beserta terjemahan yang telah dilegalisasi.

Penting: Hampir semua negara mensyaratkan dokumen resmi Indonesia diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah dan dilegalisasi melalui apostille atau legalisasi konsulat agar diakui secara hukum.

Baca Juga: Jasa Interpreter Bahasa Mandarin untuk Pabrik di Karawang

Mengapa Banyak WNI Memilih Visa Pasif?

1. Efisiensi Finansial

WNI yang memiliki penghasilan pasif dari bisnis, investasi, atau properti di Indonesia bisa mendapatkan standar hidup yang layak di luar negeri dengan pengeluaran lebih hemat.

Negara seperti Thailand, Georgia, atau Portugal menawarkan biaya hidup yang terjangkau, terutama jika penghasilan masih dalam rupiah yang dikonversi.

2. Akses Fasilitas yang Lebih Lengkap

Sebagian WNI memilih menetap di luar negeri untuk mengakses layanan kesehatan, pendidikan, atau infrastruktur yang lebih andal.

Visa pasif memungkinkan mereka menikmati fasilitas tersebut secara legal dalam jangka panjang.

3. Diversifikasi Aset

Izin tinggal di negara lain membuka peluang untuk membuka rekening bank luar negeri, memiliki properti, dan mendiversifikasi aset secara sah.

Strategi ini kian diminati oleh mereka yang berpikir panjang soal pengelolaan kekayaan.

4. Mendukung Kerja Jarak Jauh

Banyak profesional Indonesia kini bekerja untuk perusahaan global.

Digital nomad visa memberi mereka legalitas untuk tinggal lebih lama di negara pilihan tanpa harus terus memperpanjang visa turis.

5. Pensiun dan Pendidikan Anak

Sebagian WNI memanfaatkan visa pasif untuk mempersiapkan masa pensiun di kawasan Asia Tenggara, sementara sebagian lainnya memilihnya agar anak-anak mendapat akses ke sekolah internasional berkualitas.


Tantangan yang Perlu Diperhitungkan

Visa pasif punya daya tarik, namun ada beberapa hal yang perlu dicermati sebelum mengajukan:

  • Regulasi bisa berubah sewaktu-waktu. Contohnya, Malaysia memperketat syarat MM2H pada 2021 dan banyak pemohon harus menyesuaikan rencana mereka.
  • Biaya dokumen tidak sedikit. Penerjemahan, legalisasi, dan apostille membutuhkan anggaran yang perlu disiapkan dari awal.
  • Ada konsekuensi pajak. Tinggal di luar negeri dalam jangka waktu tertentu bisa memengaruhi kewajiban pajak di Indonesia maupun di negara tujuan.
  • Batasan bekerja perlu dipahami. Pemegang visa pasif umumnya dilarang bekerja untuk entitas lokal, sehingga penting memahami definisi “bekerja” menurut hukum negara tersebut.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Apakah visa pasif sama dengan izin tinggal tetap? Tidak. Visa pasif umumnya bersifat sementara dan perlu diperbarui setiap satu hingga dua tahun. Beberapa program membuka jalur menuju permanent residency setelah beberapa tahun jika semua ketentuan terpenuhi.
  • Apakah WNI dengan visa pasif tetap wajib bayar pajak di Indonesia? Tergantung status domisili pajak. Jika kamu masih terdaftar sebagai Wajib Pajak Dalam Negeri, kewajiban perpajakan tetap berlaku. Konsultasikan dengan konsultan pajak sebelum pindah.
  • Berapa lama proses pengajuannya? Bervariasi tergantung negara dan kelengkapan dokumen. Umumnya membutuhkan waktu satu hingga enam bulan.
  • Apakah dokumen Indonesia perlu diterjemahkan? Ya. Hampir semua negara meminta dokumen dalam bahasa lokal atau bahasa Inggris, diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah, dan dilegalisasi sesuai ketentuan negara tujuan.

Baca Juga: Jasa Interpreter Bahasa Mandarin untuk Pabrik di Karawang

Terjemahkan Dokumenmu Bersama Translation Transfer!

Visa pasif menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan oleh WNI yang ingin tinggal di luar negeri secara legal dan terencana.

Ragam pilihannya cukup luas, dari visa pensiun di Thailand hingga digital nomad visa di Eropa, dan bisa disesuaikan dengan kondisi finansial serta kebutuhan masing-masing.

Kunci keberhasilan pengajuannya terletak pada persiapan dokumen yang tepat dan diakui secara internasional, mulai dari terjemahan tersumpah, apostille, hingga legalisasi konsulat.

Hubungi kami sekarang juga melalui WhatsApp di 0856-6671-475 atau kirim email ke admin@translationtransfer.com untuk konsultasi dan pemesanan layanan.

Kamu juga dapat mengunjungi Instagram kami di @translationtransfer untuk mendapatkan informasi terbaru.

Jangan tunda impian untuk tinggal dan menetap di luar negeri lewat jalur visa pasif yang legal dan terencana.

Persiapkan dokumen kamu dengan benar dan profesional agar proses pengajuan berjalan lancar sejak awal.

Pastikan setiap dokumen sudah diterjemahkan secara akurat dan memiliki kekuatan hukum yang diakui di negara tujuan.

Dengan alur yang tepat, proses administrasi yang terlihat rumit pun bisa diselesaikan dengan lebih terstruktur.

Bersama Translation Transfer yang terpercaya, proses administrasi menjadi lebih aman, cepat, dan terarah.


Referensi

Directorate General of Taxes, Ministry of Finance Indonesia yaitu ketentuan pajak bagi WNI yang tinggal di luar negeri. https://www.pajak.go.id

banner smart slider

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

penerjemah tersumpah

Postingan Lainnya

Dapatkan Layanan Cepat Akurat Tepercaya

Bersama Penerjemah Resmi

Berikan kami kesempatan untuk membantu untuk menemukan layanan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Kami siap melayani Anda kapanpun itu.

Konsultasi GRATIS!

Share

Dapatkan Tips dan Info Terbaru! Gabung Sekarang

Postingan Terkait