Penulis: Dwi Khusnul Umayati

Mengingat Jejak Sejarah Lewat Terjemahan Buku Laut BerceritaLaut Bercerita merupakan sebuah buku fiksi yang memasukkan jejak sejarah Indonesia ke dalamnya. Novel ini menarik banyak perhatian dan berhasil menduduki rak best seller hingga saat ini. Buku ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Penguin Random House SEA pada tahun 2020. Menceritakan tentang apa buku ini dan bagaimana terjemahan buku membantu merawat ingatan akan sejarah kelam Bangsa Indonesia?

terjemahan buku

Laut Bercerita, Kepada Mereka yang Dihilangkan dan Tetap Hidup Selamanya

Laut Bercerita beberapa tahun terakhir menjadi pembahasan hangat di kalangan pecinta buku. Apa kiranya yang membuat buku ini ramai dibicarakan? Sampul bukunya yang penuh makna? Alur ceritanya? Atau karena penulisnya? Ketiga hal tersebut bisa saja menjadi faktor Laut Bercerita menjadi primadona.

Kepada Mereka yang Dihilangkan dan Tetap Hidup Selamanya

Kutipan dari buku Laut bercerita itu mungkin bisa menjadi gambaran dari isi buku ini. Laut Bercerita merupakan sebuah novel fiksi karya Leila S. Chudori yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia pada tahun 2017. Judul buku ini diambil dari tokoh utamanya yang bernama Biru Laut, seorang mahasiswa Sastra Inggris yang menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Laut merupakan seorang aktivis yang menjabat sebagai Sekretaris Jendral Winatra. Winatra merupakan sebuah kelompok aktivis yang pada masanya sering menjadi incaran polisi dan intel. Mengapa polisi dan intel menjadikan Winatra sebagai incaran? Nah, hal ini terkait dengan latar belakang pada buku ini sendiri, yaitu pada masa Orde Baru. Pada masa ini, pemerintahan dinilai sangat otoriter dan anti kritik, maka dari itu aktivis pejuang demokrasi seperti Biru Laut banyak dibungkam dan diincar hingga diperjarakan.

Dari latar belakang inilah kisah Laut dimulai. Dalam buku ini, kamu akan dibawa mengikuti perjalanan Laut dan teman-teman aktivisnya; Kasih Kinanti, Naratama, Gusti, Alex, Daniel, dan Sunu dalam memperjuangkan demokrasi demi mengubah negara ke arah yang lebih baik. Namun, perjuangan Laut dan teman-temannya bukan tanpa tantangan. Mereka mendapat banyak represi dan siksaan oleh pihak kepolisian dan intel atas upaya-upaya pemberontakan mereka. Pada buku ini, kamu akan ikut merasakan penderitaan yang dialami para aktivis ketika mereka dipenjara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.

Selain mengambil kisah perjuangan aktivisme Laut, buku ini juga menceritakan tentang kisah cinta Laut dan Anjani, seorang pelukis mural yang terhalang keadaan politik. Walaupun harus berpisah oleh Laut karena represi yang diberikan pada para aktivis, Anjani tetap setia menunggu Laut dan mendukung perlawanannya.

Buku ini dibagi menjadi dua bagian dan sudut pandang. Bagian pertama mengambil sudut pandang Laut sementara bagian kedua mengambil sudut pandang Asmara Jati, adik perempuan Biru Laut. Mengapa buku ini dibagi menjadi dua sudut pandang? Hal ini dikarenakan alasan yang sangat menyedihkan. Apakah itu?

Baca juga: 5 Universitas Cina yang Tawarkan Beasiswa Menarik

Laut Bercerita, Tidak Hanya Sekadar Fiksi Belaka

Laut Bercerita bukan sekadar karangan fiksi, tapi buku ini memasukkan unsur sejarah Indonesia ke dalamnya, tepatnya pada masa Orde Baru. Banyak tragedi dan aksi yang dimasukkan pada buku ini, seperti Tragedi Blangguan tahun 1993 dan penculikan aktivis 1998. Berdasarkan laporan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasa (KontraS) pada jangka waktu 1997-1998, ada 23 orang yang diculik oleh negara. 13 korban di antaranya dinyatakan hilang hingga saat ini.

Tragedi inilah yang menjadi latar belakang penulisan buku ini. Dalam sebuah wawancara bersama Menjadi Manusia, Leila S. Chudori menjelaskan bahwa karakter-karakter pada buku ini diambil dari kisah para aktivis masa lalu yang memperjuangkan demokrasi pada masa Orde Baru, salah satunya adalah Nezar Patria, salah satu korban penculikan yang selamat.

Laut Bercerita menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta buku karena unsur sejarah yang dimasukkan merupakan isu yang cukup sensitif di kalangan masyarakat. Buku ini membuka kembali ingatan masyarakat tentang sejarah kelam bangsa Indonesia. Buku ini kemudian menjadi bahan diskusi oleh banyak orang dan menjadi sarana bagi orang-orang yang ingin mempelajari sejarah perjuangan lewat kemasan fiksi.

Seperti kutipan buku ini “Kepada Mereka yang Dihilangkan dan Tetap Hidup Selamanya” buku ini memiliki tujuan agar orang-orang yang membacanya tidak melupakan sejarah serta para aktivis yang sampai saat ini dinyatakan hilang dan tidak kembali.

Laut Bercerita tidak hanya sebuah novel fiksi dengan kisah yang mengiris hati, tapi juga sebuah bentuk merawat ingatan terhadap sejarah dan aktivis-aktivis yang ikut serta dalam menggulingkan sistem pemerintahan otoriter Orde Baru.

Kembali pada pembahasan mengenai sudut pandang berbeda dalam satu buku. Pada buku ini, Biru Laut diceritakan sebagai salah satu korban penculikan negara dan berakhir dihilangkan. Sementara itu, sudut pandang Asmara Jati mengisahkan tentang kehidupan keluarga dan orang-orang terkasih Biru Laut setelah kepergian Laut. Di bagian ini juga dijelaskan tentang aksi damai yang dilakukan oleh keluarga korban yang kini dikenal sebagai Aksi Kamisan.

Baca juga: 10 Negara Dengan Bahasa Terbanyak

The Sea Speaks His Name, Bagaimana Terjemahan Buku Ikut Merawat Ingatan Akan Sejarah

Berkat kesuksesannya, pada tahun 2020 Penguin Random House SEA menerbitkan terjemahan buku Laut Bercerita dalam bahasa Inggris di Singapura. Terjemahan buku Laut Bercerita karya Leila S. Chudori ini diberi judul The Sea Speaks His Name.

Laut Bercerita bukan buku karya penulis Indonesia pertama yang berhasil mendunia, sebelumnya buku Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan dan Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer juga berhasil menembus pasar global. Sama seperti dua buku yang disebutkan tadi, Laut Bercerita juga merupakan sebuah buku yang sama-sama memasukkan jejak sejarah Indonesia ke dalam karya fiksi.

Munculnya terjemahan buku Laut Bercerita ini menunjukan bagaimana penerjemahan berperan sebagai jembatan antara budaya dan bahasa yang berbeda. Diterbitkannya terjemahan buku The Sea Speaks His Name memungkinkan pembaca dari latar belakang bahasa dan budaya yang beragam untuk mengenal jejak sejarah tentang pemerintahan Indonesia di masa lalu. Terjemahan buku ikut serta dalam merawat ingatan masyarakat akan sejarah bangsa dalam cakupan yang lebih luas. Melalui terjemahan, esensi dari cerita dan pesan yang ingin disampaikan penulis dapat dipahami lebih luas.

Tidak hanya merawat ingatan akan sejarah, tapi terjemahan buku ini juga mengajak lebih banyak orang untuk merenungkan bagaimana sejarah membentuk sebuah bangsa, mengajarkan perjuangan tanpa kenal waktu, serta penghormatan akan korban-korban ketidakadilan sebuah negara. Terjemahan buku ini juga berkontribusi pada kesadaran budaya yang lebih luas. Dengan membawa kisah ini ke pembaca yang lebih luas, kita juga bisa membuka ruang diskusi yang lebih luas dan kesempatan mendapat pandangan dari banyak perspektif.

Terjemahan Buku: Mengatasi Keterbatasan Bahasa

Translation Transfer ikut serta dalam memberikan jembatan akan keterbatasan bahasa dalam dunia sastra lewat penyediaan layanan penerjemahan buku. Translation Transfer membantu kamu untuk menerjemahkan buku agar lebih banyak lagi pembaca yang dapat menikmati karya-karya kamu.

Baca juga: Translate Ijazah | Kenapa Ini Penting Untuk Pendidikan dan Karier Global?

banner smart slider

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

penerjemah tersumpah

Postingan Lainnya

Dapatkan Layanan Cepat Akurat Tepercaya

Bersama Penerjemah Resmi

Berikan kami kesempatan untuk membantu untuk menemukan layanan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Kami siap melayani Anda kapanpun itu.

Konsultasi GRATIS!

Share

Dapatkan Tips dan Info Terbaru! Gabung Sekarang

Postingan Terkait