Penerjemah Resmi
by Translation Transfer
Penulis: Cintya Arum Pawesti

FIFA Ubah Aturan Bahasa Setelah Video Hakimi dan Vinicius Viral – Dunia sepak bola internasional dikejutkan oleh keputusan kontroversial FIFA yang melarang penggunaan bahasa Spanyol dalam konferensi pers resmi Piala Dunia 2026.
Keputusan ini menjadi sorotan tajam setelah dua video viral beredar di media sosial, menampilkan bintang Maroko Achraf Hakimi dan bintang Brasil Vinicius Junior yang tampak canggung akibat pembatasan bahasa tersebut.
Insiden ini tidak hanya memicu tawa netizen, tetapi juga mengundang gelombang kritik keras dari komunitas media dan penggemar sepak bola di seluruh dunia.
Dalam waktu singkat, tekanan publik yang begitu besar memaksa FIFA untuk segera mengevaluasi kebijakannya.
Tak butuh waktu lama, badan sepak bola dunia itu pun mengumumkan perubahan resmi yang cukup signifikan.
Artikel ini akan mengulas secara lengkap kronologi peristiwa, alasan di balik kebijakan awal FIFA, serta dampak perubahan aturan bahasa tersebut terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Kasus ini sekaligus membuka diskusi penting tentang peran bahasa dan komunikasi lintas budaya dalam ajang olahraga berskala dunia.
Kontroversi ini bermula menjelang laga Maroko kontra Brasil ketika Hakimi diminta tidak menjawab pertanyaan dalam bahasa Spanyol, padahal bek Paris Saint-Germain itu lahir di Spanyol dan fasih menggunakan bahasa tersebut.
Pertanyaan tersebut diajukan oleh Rodrigo Ornelas dari TV Azteca Meksiko, dan Hakimi sebenarnya sangat bersedia merespons.
Namun pejabat FIFA tetap bersikukuh bahwa hal itu tidak dimungkinkan karena keterbatasan sumber daya penerjemahan.
Hakimi akhirnya mencoba menjelaskan kepada petugas media bahwa ia sanggup menjawab pertanyaan dari jurnalis asal Meksiko tersebut.
Pada akhirnya, ia harus menjawab dalam bahasa Inggris, yang dilakukannya dengan sangat baik dan penuh ketenangan.
Insiden serupa dialami oleh bintang Real Madrid, Vinicius Junior. Ketika mendapat pertanyaan dalam bahasa Spanyol, pemain andalan Timnas Brasil itu menolak menggunakannya dan menegaskan, “Saya di sini bersama Brasil, jadi saya akan berbicara dalam bahasa Portugis.”
Selain Hakimi dan Vinicius, gelandang Belanda Frenkie de Jong juga mengalami pembatasan yang sama saat ingin menjawab menggunakan bahasa Spanyol dalam sesi konferensi pers.
Kondisi ini memicu kritik dari sejumlah media dan penggemar yang menilai aturan FIFA terlalu kaku dalam ajang yang seharusnya mencerminkan keberagaman budaya.
Baca Juga: 5 Pelajaran dari Kasus Bahasa Vinicius Jr di Piala Dunia 2026
Sebelum perubahan kebijakan dilakukan, layanan penerjemahan hanya tersedia dalam bahasa Inggris dan dua bahasa lain yang dipilih oleh masing-masing tim peserta.
FIFA berdalih bahwa pembatasan tersebut diterapkan demi mempermudah proses penerjemahan dan memastikan seluruh peserta konferensi pers dapat memahami jalannya sesi tanya jawab.
Penjelasan resmi didasarkan pada alasan logistik, yaitu FIFA ingin membatasi diri pada bahasa-bahasa yang memiliki layanan terjemahan langsung guna menghindari masalah operasional dalam konferensi pers besar.
Keputusan tersebut justru menimbulkan pertanyaan besar karena salah satu negara tuan rumah Piala Dunia 2026 adalah Meksiko, yang menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa utama.
FIFA memang menegaskan bahwa tidak ada larangan terhadap bahasa Spanyol secara umum, namun masalahnya terletak pada pertandingan di mana bahasa Spanyol bukan bahasa resmi salah satu tim yang bertanding.
Kebijakan ini sulit dibenarkan mengingat Piala Dunia 2026 diselenggarakan di wilayah di mana bahasa Spanyol memiliki pengaruh yang sangat besar.
Baca Juga: Ekspatriat Jepang Baru Tiba dan Butuh Escort Interpreter? Hubungi Kami!
Menurut laporan Sporting News, FIFA akhirnya menyadari kekeliruannya dan memutuskan untuk menambahkan bahasa Spanyol sebagai bahasa keempat yang tersedia dalam konferensi pers resmi Piala Dunia 2026.
Keputusan tersebut diambil setelah FIFA menyaksikan besarnya kritik dan reaksi negatif yang membanjiri media sosial.
Dalam pengumuman resminya, FIFA menyatakan bahwa bahasa Spanyol mulai saat itu menjadi salah satu pilihan terjemahan yang tersedia bagi jurnalis terakreditasi dalam konferensi pers resmi.
Keputusan ini menjadi salah satu koreksi cepat yang dilakukan FIFA selama turnamen berlangsung, setelah sebelumnya sejumlah aturan baru seperti jeda hidrasi wajib dan regulasi anti-mengulur waktu juga menuai perdebatan.
Dengan aturan baru tersebut, bahasa Spanyol kini menjadi pilihan tetap dalam seluruh konferensi pers.
Langkah ini dinilai lebih masuk akal mengingat Piala Dunia 2026 diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, dengan jutaan penggemar sepak bola berbahasa Spanyol mengikuti turnamen tersebut.

Insiden ini menjadi pengingat kuat bahwa dalam penyelenggaraan event olahraga bertaraf internasional, kebijakan bahasa bukan sekadar soal logistik teknis, melainkan juga soal penghormatan terhadap identitas budaya dan inklusivitas.
Ketika seorang pemain seperti Hakimi yang tumbuh besar di Spanyol tidak diizinkan berkomunikasi dalam bahasa yang paling nyaman baginya, hal itu secara tidak langsung menciptakan jarak antara atlet, media, dan publik.
Bahasa Spanyol dituturkan oleh lebih dari 500 juta penutur asli di seluruh dunia, sehingga mengabaikannya dalam event yang diselenggarakan di kawasan Amerika adalah sebuah kekeliruan yang seharusnya tidak terjadi.
Insiden FIFA ini juga mengingatkan kita akan pentingnya layanan terjemahan dan alih bahasa yang profesional, terutama dalam konteks dokumen resmi dan komunikasi lintas batas.
Kesalahan dalam penerjemahan atau ketidaksiapan infrastruktur bahasa dapat berujung pada kesalahpahaman serius, seperti yang terjadi dalam kasus ini.
Bagi individu maupun institusi yang memerlukan dokumen resmi dalam berbagai bahasa, menggunakan jasa penerjemahan profesional bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan.
Baca Juga: Jasa Interpreting untuk Sertifikasi ISO di Pabrik Jepang
Kasus FIFA ubah aturan bahasa setelah video Hakimi dan Vinicius viral menjadi bukti nyata bahwa kebijakan komunikasi dalam ajang internasional harus dirancang dengan mempertimbangkan keberagaman budaya dan bahasa secara menyeluruh.
Tekanan publik yang luar biasa berhasil mendorong FIFA untuk segera melakukan koreksi dan mengakui kekeliruannya, sebuah preseden positif bahwa suara komunitas sepak bola dunia memiliki kekuatan nyata.
Insiden ini sekaligus menjadi pelajaran berharga bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga representasi identitas, harga diri, dan rasa hormat antarbangsa.
Hubungi kami sekarang juga melalui WhatsApp di 0856-6671-475 atau kirim email ke admin@translationtransfer.com untuk konsultasi dan pemesanan layanan.
Anda juga dapat mengunjungi Instagram kami di @translationtransfer untuk mendapatkan informasi terbaru. Jangan tunda impian untuk tampil percaya diri di panggung internasional dengan dokumen yang diartikan secara akurat dan profesional, seperti para pemain dunia yang berhak bersuara dalam bahasa mereka sendiri.
Persiapkan dokumen Anda dengan benar dan profesional.
Bersama Translation Transfer yang terpercaya, proses administrasi menjadi lebih aman, cepat, dan terarah.
Kami hadir sebagai mitra alih bahasa terpercaya yang siap menangani berbagai jenis dokumen resmi dengan standar internasional.
Dengan pengalaman di bidang penerjemahan tersumpah dan dokumen legal, kami memastikan setiap kata dalam dokumen Anda tersampaikan dengan tepat dan berterima di mata hukum maupun institusi internasional.


