Penerjemah Resmi
by Translation Transfer
Penulis: Devi Mulina Husdania

Orang yang Bicara Dua Bahasa Punya Kepribadian Berbeda di Tiap Bahasa | Fenomena orang yang terlihat “berbeda” saat berbicara dalam dua bahasa bukanlah hal aneh. Banyak penutur bilingual merasa lebih percaya diri, lebih santai, atau justru lebih formal ketika berganti bahasa. Perubahan ini sering membuat orang bertanya, apakah bahasa benar-benar memengaruhi kepribadian.
Dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman seperti ini mudah ditemukan. Seseorang bisa terdengar sangat ekspresif saat berbicara bahasa ibu, tetapi menjadi lebih tenang ketika memakai bahasa asing. Ada juga yang merasa lebih profesional saat menggunakan bahasa Inggris, karena bahasa itu sering dipakai di sekolah, kantor, dan ruang publik internasional.
Secara sederhana, bilingualisme adalah kemampuan menggunakan dua bahasa dalam aktivitas komunikasi. Kemampuan ini tidak selalu berarti fasih sempurna pada kedua bahasa, tetapi cukup untuk memahami, berbicara, membaca, atau menulis sesuai kebutuhan. Di Indonesia, bilingualisme sangat umum karena banyak orang memakai bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing secara bergantian.
Kondisi ini membuat identitas seseorang tampak fleksibel. Bahasa bukan sekadar alat tukar kata, tetapi juga membawa budaya, kebiasaan sosial, dan cara mengekspresikan emosi. Karena itu, perbedaan perilaku saat berganti bahasa sering kali muncul sebagai respons terhadap konteks, bukan karena seseorang memiliki dua kepribadian yang sepenuhnya berbeda.
Banyak penelitian psikologi dan linguistik menunjukkan bahwa bahasa dapat memengaruhi cara kita menilai diri sendiri dan orang lain. Jadi, saat seseorang tampak “berubah” ketika menggunakan bahasa yang berbeda, yang sedang terjadi biasanya adalah penyesuaian identitas dan gaya komunikasi.
Baca juga: Cara Pengacara Mempersiapkan Interpreter Bahasa Inggris untuk Sidang
Banyak orang menganggap perubahan sikap saat berganti bahasa sebagai tanda kepribadian ganda, padahal penjelasannya lebih kompleks. Bahasa dapat mengaktifkan sisi diri yang berbeda karena setiap bahasa sering dipelajari dalam situasi sosial yang berlainan. Akibatnya, respons yang muncul pun ikut berbeda.
Misalnya, bahasa yang dipelajari di sekolah biasanya memunculkan gaya berbicara yang lebih teratur, hati-hati, dan formal. Sebaliknya, bahasa yang dipakai di rumah sering dikaitkan dengan kedekatan emosional, kehangatan, atau spontanitas. Jadi, yang berubah bukan inti kepribadian, melainkan cara kepribadian itu diekspresikan.
Peneliti kerap menjelaskan fenomena ini sebagai efek konteks bahasa. Saat seseorang berbicara dalam bahasa tertentu, otak tidak hanya memproses kosakata dan tata bahasa, tetapi juga memanggil ingatan, norma sosial, dan kebiasaan interaksi yang pernah menyertai bahasa itu. Inilah sebabnya seseorang bisa terasa berbeda saat berganti bahasa.
Perubahan ini juga bisa dipengaruhi oleh rasa aman. Dalam bahasa yang lebih dikuasai, seseorang biasanya lebih bebas bercanda, berargumen, atau menunjukkan emosi. Dalam bahasa yang belum terlalu lancar, orang cenderung lebih menahan diri karena khawatir salah ucap atau disalahpahami.
Dengan kata lain, bilingual tidak berarti memiliki dua kepribadian yang bertentangan. Lebih tepat jika dikatakan bahwa satu orang dapat menampilkan sisi diri yang berbeda sesuai bahasa, lingkungan, dan lawan bicara yang sedang dihadapi.
Baca juga: 5 Kesalahan Perusahaan Saat Pakai Interpreter Bahasa Mandarin Dadakan
Salah satu penyebab utamanya adalah hubungan bahasa dengan identitas budaya. Bahasa membawa aturan tak tertulis tentang kesopanan, jarak sosial, humor, dan cara menyampaikan pendapat. Ketika seseorang memakai bahasa tertentu, ia ikut masuk ke dalam pola budaya yang menyertainya.
Selain itu, emosi sering kali lebih kuat pada bahasa pertama. Bahasa ibu biasanya dipelajari sejak kecil bersama pengalaman keluarga, rasa nyaman, marah, sedih, atau gembira. Karena itu, ekspresi emosional dalam bahasa pertama sering terasa lebih spontan dan lebih dalam.
Bahasa kedua, di sisi lain, sering terasa lebih “netral” atau lebih terkendali. Bagi sebagian orang, bahasa asing justru membuat mereka lebih berani karena ada jarak emosional yang membantu mengurangi rasa malu. Jarak ini bisa membuat seseorang lebih rasional saat berbicara, terutama dalam situasi formal.
Tingkat penguasaan bahasa juga berpengaruh besar. Semakin fasih seseorang, semakin mudah ia menyesuaikan nada bicara, pilihan kata, dan gaya humor. Sebaliknya, jika kemampuan bahasa masih terbatas, orang bisa tampak lebih pendiam atau kaku bukan karena tidak percaya diri, tetapi karena sedang fokus memproses bahasa.
Faktor lingkungan belajar juga penting. Bahasa yang dipelajari melalui buku, kelas, dan ujian cenderung memunculkan gaya komunikasi yang lebih terstruktur. Bahasa yang dipelajari lewat pergaulan atau kehidupan sehari-hari biasanya membuat ekspresi lebih luwes. Semua ini memperkuat kesan bahwa kepribadian berubah, padahal sebenarnya sedang terjadi adaptasi sosial.
Baca juga: Penyetaraan Ijazah Luar Negeri di Indonesia: Proses, Lama, dan Biayanya
Salah satu contoh yang paling sering dibahas adalah rasa percaya diri saat berbicara bahasa Inggris. Banyak orang merasa lebih profesional, lugas, dan berani menyampaikan pendapat ketika memakai bahasa ini. Hal itu sering berkaitan dengan pengalaman akademik, dunia kerja, dan paparan media internasional.
Contoh lain terlihat pada bahasa yang sangat menekankan kesopanan, seperti Jepang atau Korea. Dalam bahasa-bahasa ini, pilihan kata dan tingkat formalitas sangat memengaruhi hubungan sosial. Akibatnya, penutur sering menjadi lebih hati-hati, sopan, dan menghitung jarak sosial ketika berbicara.
Di sisi lain, saat memakai bahasa ibu, banyak orang menjadi lebih ekspresif. Mereka lebih mudah bercanda, mengeluh, atau menunjukkan rasa marah dan sayang. Ini terjadi karena bahasa pertama sering terhubung dengan pengalaman masa kecil, keluarga, dan emosi yang paling awal.
Ada pula penutur bilingual yang merasa lebih objektif saat berbicara dalam bahasa kedua. Dalam situasi tertentu, bahasa asing membantu mereka mengambil jarak dari emosi yang terlalu kuat. Karena itu, bahasa kedua kadang dipakai untuk diskusi serius, negosiasi, atau pengambilan keputusan.
Perbedaan perilaku ini menunjukkan bahwa bahasa berfungsi sebagai “jembatan” antara pikiran dan konteks sosial. Seseorang tetap orang yang sama, tetapi bahasa yang dipakai dapat menonjolkan sisi yang berbeda, seperti sisi profesional, sisi hangat, atau sisi tegas.

Menjadi bilingual membawa banyak manfaat di luar sekadar kemampuan berbicara dua bahasa. Secara umum, bilingualisme membantu seseorang lebih mudah beradaptasi dalam lingkungan multikultural. Kemampuan ini juga sangat berguna di dunia pendidikan, pekerjaan, dan perjalanan internasional.
Dari sisi kognitif, penggunaan dua bahasa dapat melatih perhatian, fleksibilitas berpikir, dan kemampuan berpindah fokus. Walau hasil penelitian tentang manfaat kognitif bilingual masih dibahas dalam berbagai sudut pandang, banyak ahli sepakat bahwa aktivitas berbahasa ganda memberi latihan mental yang konsisten.
Di dunia kerja, bilingualisme membuka peluang yang lebih luas. Perusahaan global, lembaga pendidikan, dan instansi internasional sering membutuhkan orang yang mampu berkomunikasi lintas bahasa. Kemampuan ini juga memudahkan seseorang memahami budaya kerja yang berbeda.
Namun, saat berurusan dengan dokumen resmi, kemampuan berbicara saja tidak cukup. Dokumen akademik, legal, imigrasi, bisnis, atau pernikahan campuran membutuhkan terjemahan yang akurat dan formal. Di sinilah jasa penerjemah profesional, termasuk penerjemah tersumpah, menjadi sangat penting.
Untuk kebutuhan seperti ini, Translation Transfer dapat menjadi solusi yang membantu proses terjemahan dokumen berjalan lebih aman, rapi, dan sesuai kebutuhan administratif. Saat detail bahasa harus tepat, terjemahan profesional mengurangi risiko salah arti yang bisa berdampak pada pengajuan visa, beasiswa, kerja, atau legalisasi.
Orang yang bicara dua bahasa memang bisa terlihat memiliki kepribadian berbeda di tiap bahasa. Tetapi yang berubah sebenarnya bukan jati dirinya, melainkan cara ia mengekspresikan pikiran, emosi, dan identitas sesuai konteks bahasa yang dipakai.
Perbedaan itu dipengaruhi budaya, lingkungan belajar, tingkat kefasihan, dan kedekatan emosional dengan masing-masing bahasa. Karena itu, bilingualisme sebaiknya dipandang sebagai kekuatan komunikasi, bukan sebagai tanda ketidakkonsistenan karakter.
Di era global seperti sekarang, kemampuan dua bahasa memberi manfaat besar, baik untuk kehidupan pribadi maupun profesional. Dan ketika urusan beralih ke dokumen resmi, terjemahan yang tepat menjadi sama pentingnya dengan kemampuan berbicara.


