Penerjemah Resmi
by Translation Transfer

Oleh : Wahyu Jum’ah Maulidan
Apa yang Terjadi jika Interpreter Salah Terjemah di Sidang Pengadilan | Bayangkan sebuah persidangan di mana nasib seseorang, baik kebebasannya, hak asuhnya atas anak, atau aset yang dimilikinya, ditentukan oleh kata-kata yang diucapkan dalam bahasa yang tidak dia pahami, dan satu-satunya jembatan antara dirinya dan keadilan adalah seorang interpreter. Ketika interpreter tersebut melakukan kesalahan dalam menerjemahkan, konsekuensinya bisa jauh lebih serius daripada sekadar miskomunikasi biasa. Pertanyaan tentang apa yang terjadi jika interpreter salah terjemah di sidang pengadilan adalah pertanyaan yang sangat penting untuk dipahami, baik oleh pihak yang berperkara, pengacara, maupun interpreter itu sendiri.
Tidak semua kesalahan interpretasi memiliki konsekuensi yang sama. Memahami spektrum kesalahan yang mungkin terjadi akan membantu memahami bagaimana sistem hukum merespons masing-masing jenis kesalahan tersebut.
Kesalahan minor seperti pemilihan kata yang kurang tepat namun tidak mengubah makna substansial dari pernyataan yang diinterpretasikan adalah jenis kesalahan yang paling sering terjadi dan paling kecil dampaknya. Kesalahan seperti ini biasanya tidak memengaruhi keseluruhan jalannya persidangan secara signifikan, meski tetap harus dikoreksi ketika terdeteksi.
Baca juga : Layanan Translator KK Bahasa Belanda Terpercaya & Resmi
Kesalahan substansial adalah kesalahan yang mengubah makna penting dari pernyataan, seperti salah menerjemahkan keterangan tentang waktu, lokasi, atau detail kejadian yang menjadi inti dari perkara yang disidangkan. Kesalahan jenis ini bisa berdampak langsung pada bagaimana hakim dan pihak lain memahami fakta-fakta yang relevan dalam perkara.
Kesalahan kritis adalah kesalahan yang mengubah makna fundamental dari kesaksian atau pengakuan, seperti menerjemahkan pengakuan bersalah menjadi penyangkalan, atau sebaliknya. Kesalahan jenis ini memiliki potensi untuk secara langsung memengaruhi hasil akhir persidangan.
Ketika kesalahan interpretasi terdeteksi pada saat persidangan masih berlangsung, ada beberapa langkah yang bisa dan harus diambil oleh majelis hakim.
Jika kesalahan terdeteksi segera, misalnya oleh pengacara yang menguasai kedua bahasa, oleh interpreter sendiri yang menyadari kesalahannya, atau oleh pihak lain yang hadir dan memahami bahasa yang bersangkutan, koreksi bisa dilakukan langsung di tempat. Majelis hakim akan memerintahkan interpreter untuk memberikan interpretasi yang benar dan mencatat koreksi tersebut dalam berita acara persidangan.
Pencatatan yang akurat dalam berita acara persidangan adalah hal yang sangat penting karena berita acara ini akan menjadi dokumen resmi yang mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi dalam persidangan, termasuk koreksi atas kesalahan interpretasi yang mungkin terjadi.
Baca juga : Translate KK & KTP Tersumpah Kemenkumham untuk WHV Australia
Jika kesalahan yang terjadi cukup signifikan atau berulang, menunjukkan bahwa interpreter tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk tugas yang diberikan, majelis hakim memiliki kewenangan untuk mengganti interpreter di tengah persidangan. Pihak yang berperkara juga bisa mengajukan keberatan secara formal yang meminta penggantian interpreter berdasarkan bukti kesalahan yang sudah terdeteksi.
Penggantian interpreter di tengah persidangan tentu akan menyebabkan penundaan, tapi penundaan ini jauh lebih baik daripada melanjutkan persidangan dengan interpretasi yang tidak akurat yang bisa merusak keseluruhan integritas proses peradilan.
Situasi yang jauh lebih kompleks terjadi ketika kesalahan interpretasi baru diketahui setelah persidangan selesai dan putusan sudah dijatuhkan. Dalam situasi ini, konsekuensi hukumnya bergantung pada seberapa signifikan kesalahan tersebut terhadap hasil akhir perkara.

Jika pihak yang dirugikan bisa membuktikan bahwa kesalahan interpretasi yang terjadi secara substansial memengaruhi pemahaman hakim tentang fakta perkara atau memengaruhi kemampuan terdakwa atau pihak yang berperkara untuk memberikan pembelaan yang efektif, ini bisa menjadi dasar yang kuat untuk mengajukan upaya hukum banding atau kasasi.
Pengadilan tingkat banding atau kasasi akan mengevaluasi apakah kesalahan interpretasi yang dibuktikan tersebut cukup signifikan untuk mempengaruhi keadilan proses persidangan secara keseluruhan. Jika terbukti, putusan dari pengadilan tingkat pertama bisa dibatalkan dan perkara dikirim kembali untuk disidangkan ulang, kali ini dengan interpreter yang kompeten.
Baca juga : Terjemahan Ijazah & Transkrip Diakui Kedutaan Asing Resmi
Dalam konteks pidana, jika ditemukan bahwa pengakuan tersangka diperoleh melalui proses interpretasi yang keliru sehingga tersangka sebenarnya tidak benar-benar memahami apa yang ditanyakan atau apa yang dia “akui”, pengakuan tersebut bisa dinyatakan tidak sah dan dikeluarkan dari bukti yang dipertimbangkan dalam perkara.
Ini adalah konsekuensi yang sangat serius karena dalam banyak sistem hukum, pengakuan adalah salah satu bentuk bukti yang paling kuat. Jika pengakuan utama dalam suatu perkara dinyatakan tidak sah karena masalah interpretasi, ini bisa secara fundamental mengubah arah keseluruhan perkara.
Interpreter yang bertugas di pengadilan terikat oleh sumpah jabatan yang mereka ucapkan sebelum mulai bertugas. Sumpah ini menciptakan kewajiban hukum yang bisa ditegakkan jika dilanggar.
Hukum membedakan secara signifikan antara kesalahan interpretasi yang terjadi karena kelalaian atau ketidakkompetenan, dengan kesalahan yang dilakukan secara sengaja untuk memihak salah satu pihak atau untuk tujuan tertentu yang merugikan proses peradilan.
Kesalahan yang tidak disengaja, meski tetap memiliki konsekuensi serius terhadap proses persidangan seperti yang sudah dibahas, umumnya tidak akan mengakibatkan sanksi pidana terhadap interpreter, kecuali jika kesalahan tersebut menunjukkan tingkat kelalaian yang sangat ekstrem dan berulang.
Baca juga : Penerjemah Tersumpah Ijazah & Transkrip Resmi Kemenkumham
Kesalahan yang disengaja, di sisi lain, bisa dikategorikan sebagai tindak pidana. Interpreter yang dengan sengaja memberikan interpretasi yang keliru untuk menguntungkan atau merugikan salah satu pihak melanggar sumpah jabatannya secara serius dan bisa dikenai tuntutan pidana terkait dengan memberikan keterangan palsu dalam proses peradilan atau pelanggaran terhadap integritas proses hukum.
Selain konsekuensi pidana yang mungkin berlaku dalam kasus kesalahan yang disengaja, interpreter yang terbukti melakukan kesalahan signifikan, baik disengaja maupun karena ketidakkompetenan yang serius, bisa menghadapi sanksi administratif termasuk pencabutan status sebagai interpreter yang diakui oleh pengadilan atau pencabutan status tersumpah jika interpreter tersebut juga merupakan penerjemah tersumpah resmi.
Mengingat konsekuensi yang bisa sangat serius dari kesalahan interpretasi di pengadilan, ada beberapa langkah pencegahan yang bisa diambil oleh semua pihak yang terlibat.
Pemilihan interpreter yang benar-benar kompeten sejak awal adalah langkah pencegahan paling fundamental. Verifikasi kualifikasi, pengalaman, dan rekam jejak interpreter sebelum mereka ditugaskan dalam persidangan yang signifikan adalah investasi waktu yang sangat berharga.
Baca juga : Peluang Kuliah S2 ke Australia Lewat Beasiswa AAS 2026
Kehadiran pihak ketiga yang menguasai kedua bahasa, seperti pengacara atau perwakilan konsuler, yang bisa memantau kualitas interpretasi secara real-time memberikan lapisan pengamanan tambahan yang sangat berguna untuk mendeteksi kesalahan sebelum berdampak lebih jauh.
Kesalahan interpretasi di sidang pengadilan bukan masalah teknis kecil yang bisa diabaikan, melainkan isu yang berpotensi mengubah keseluruhan jalannya proses peradilan dan nasib pihak yang berperkara. Konsekuensinya bisa berkisar dari koreksi sederhana hingga pembatalan putusan dan tuntutan pidana terhadap interpreter yang bersangkutan, tergantung pada tingkat keparahan dan ada tidaknya unsur kesengajaan. Memahami risiko ini menegaskan betapa pentingnya memilih interpreter yang benar-benar kompeten dan menjaga mekanisme pengawasan kualitas interpretasi sepanjang proses persidangan berlangsung.
Untuk melakukan pemesanan di Translation Transfer atau mendapatkan informasi lebih lanjut tentang kebutuhan terjemahan, Anda bisa menghubungi kami melalui:
📱 WhatsApp: 0856-6671-475
📧 Email: admin@translationtransfer.com
📷 Instagram: @translationtransfer
Jangan biarkan lintas bahasa menghambat kesuksesan Anda! Hubungi kami hari ini untuk mendapatkan jasa penerjemah tersumpah yang terbaik. Translation Transfer, pilihan terpercaya untuk semua kebutuhan penerjemahan resmi Anda. Selami lebih dalam potensi global Anda dengan bantuan kami! Penasaran dengan profil kami? Klik di sini untuk mengenal lebih jauh tentang kami atau kunjungi website Translation Transfer kami!
Dengan layanan dari Translation Transfer dan penerjemahresmi.id, Anda dapat memastikan bahwa setiap dokumen Anda akan diterjemahkan dengan tingkat akurasi dan profesionalisme yang tinggi. Percayakan kebutuhan jasa Penerjemah Tersumpah Anda kepada kami, dan lihat bagaimana kami dapat membantu Anda mencapai tujuan internasional dengan lebih efektif. Temukan informasi menarik lainnya di media sosial kami Klik di sini untuk mengikuti.
Referensi:
Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2024). Pedoman Penanganan Keberatan terhadap Juru Bahasa dalam Persidangan. https://www.mahkamahagung.go.id
International Association of Conference Interpreters. (2024). Liability and Professional Standards for Court Interpreters. https://aiic.net
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. (2024). Standar Fair Trial dalam Proses Peradilan yang Melibatkan Bahasa Asing. https://www.komnasham.go.id


