Penerjemah Resmi
by Translation Transfer
Penulis: Devi Mulina Husdania

Jurnal Scopus Direject Reviewer? Bukan Datanya, Tapi Bahasanya Bermasalah | Banyak penulis berasumsi bahwa penolakan dari reviewer terjadi karena data penelitian mereka dianggap lemah. Padahal, dalam banyak kasus, masalah utama justru ada pada cara manuskrip disampaikan. Reviewer membaca bukan hanya isi penelitian, tetapi juga kejelasan bahasa, alur argumentasi, dan ketepatan istilah akademik.
Jurnal terindeks Scopus umumnya memiliki standar yang ketat dalam hal kebaruan, ketelitian metodologi, serta keterbacaan naskah. Artinya, riset yang bagus tetap bisa tertahan jika penyampaiannya membingungkan. Manuskrip dengan struktur yang rapi akan lebih mudah dinilai, sementara tulisan yang berantakan sering membuat reviewer lelah sebelum sampai ke inti temuan.
Selain itu, editor dan reviewer biasanya bekerja dengan banyak naskah sekaligus. Mereka cenderung cepat mengenali apakah sebuah artikel siap dibaca lanjut atau masih perlu perbaikan besar. Karena itu, bahasa yang tidak jelas dapat memberi kesan bahwa penulis belum benar-benar siap masuk ke ranah publikasi internasional.
Dalam konteks ini, kualitas bahasa bukan sekadar kosmetik. Bahasa yang baik membantu penelitian terlihat kredibel, logis, dan layak dipertimbangkan. Sebaliknya, bahasa yang buruk sering memunculkan kesan bahwa isi riset belum matang, meskipun datanya sebenarnya kuat.
Baca juga: 8 Dokumen Beasiswa Chevening 2026 yang Paling Sering Gagal Verifikasi
Salah satu penyebab paling umum adalah naskah yang sulit dipahami karena grammar, pilihan kata, atau susunan kalimat yang tidak natural. Reviewer dapat memahami arah penelitian, tetapi harus bekerja ekstra keras untuk menafsirkan maksud penulis. Hal ini sering menjadi alasan munculnya komentar revisi besar.
Masalah lain adalah ketidaksesuaian antara tujuan penelitian dan cara menulisnya. Banyak artikel memakai bahasa yang terlalu deskriptif, terlalu panjang, atau terlalu berputar-putar. Akibatnya, kontribusi ilmiah penelitian menjadi kabur. Padahal, jurnal internasional menuntut pesan utama tersampaikan secara ringkas dan tepat.
Ada juga manuskrip yang sebenarnya punya data bagus, tetapi tidak didukung oleh narasi akademik yang kuat. Hasil penelitian menjadi tidak meyakinkan karena pembahasan kurang tajam, transisi antarparagraf lemah, dan istilah teknis dipakai tidak konsisten. Dalam situasi seperti ini, reviewer sering menilai naskah belum siap publikasi.
Itulah sebabnya banyak penolakan tidak bisa disederhanakan menjadi “datanya jelek”. Sering kali, data hanya kalah oleh penyajian yang kurang rapi. Dengan kata lain, masalahnya bukan pada substansi penelitian, melainkan pada bahasa akademik yang belum mencapai level jurnal Scopus.
Baca juga: Anak Pindah Sekolah ke Korea: Sistem Pendidikan yang Perlu Diketahui
Jurnal internasional memakai bahasa Inggris akademik sebagai medium utama. Bahasa ini berbeda dari English sehari-hari karena menuntut ketepatan istilah, kejelasan logika, dan formalitas yang konsisten. Ketika penulis menerjemahkan langsung dari bahasa Indonesia, hasilnya sering terasa kaku dan tidak natural.
Kesalahan yang paling sering muncul adalah kalimat terlalu panjang, penggunaan tense yang tidak konsisten, serta pemilihan kata yang kurang tepat. Walaupun makna umum masih bisa ditangkap, reviewer biasanya langsung melihat bahwa naskah belum diedit secara profesional. Pada tahap awal review, kesan pertama ini sangat menentukan.
Bahasa akademik yang baik juga harus mampu menunjukkan hubungan antarbagian secara jelas. Misalnya, pembaca harus mudah memahami mana latar belakang, mana gap penelitian, mana metode, dan mana kontribusi baru. Jika bahasa tidak mendukung struktur ini, maka data yang bagus tetap terasa tidak kuat.
Karena itu, penulis sebaiknya tidak hanya fokus pada “apa yang diteliti”, tetapi juga “bagaimana menjelaskannya”. Di publikasi Scopus, kejelasan bahasa sering menjadi jembatan antara kualitas riset dan keputusan editorial.
Baca juga: Dwi Kewarganegaraan Anak Nikah Campur: Batas Usia 21 Tahun
Grammar yang berantakan membuat reviewer sulit percaya bahwa manuskrip sudah melalui proses penyuntingan yang memadai. Kesalahan kecil memang tidak selalu fatal, tetapi jika muncul berulang, naskah akan terlihat tidak profesional. Reviewer bisa menilai ini sebagai tanda bahwa penulis kurang teliti.
Salah satu contoh yang sering terjadi adalah penggunaan tense yang tidak konsisten di abstract, introduction, dan discussion. Selain itu, article usage, subject-verb agreement, serta plural-singular juga sering luput. Kesalahan seperti ini mengganggu alur baca dan mengurangi kredibilitas tulisan.
Kalimat yang terlalu literal dari bahasa Indonesia juga kerap menjadi masalah. Misalnya, struktur kalimat diterjemahkan kata per kata tanpa mempertimbangkan gaya akademik bahasa Inggris. Hasilnya, naskah terdengar asing, tidak natural, dan kadang menimbulkan makna ganda.
Pada level reviewer, hal semacam ini sering memicu komentar seperti “poor English” atau “language needs major revision”. Artinya, naskah belum ditolak karena ide penelitian buruk, tetapi karena bahasa belum membantu ide tersebut tampil meyakinkan.
Reviewer membaca manuskrip sebagai satu kesatuan. Mereka tidak hanya memeriksa hasil statistik atau temuan lapangan, tetapi juga menilai apakah penulis mampu membangun argumen ilmiah yang solid. Bila bahasa tidak jelas, kualitas argumen ikut turun.
Misalnya, sebuah hasil penelitian yang sebenarnya penting bisa terlihat biasa saja jika dijelaskan dengan kalimat lemah. Sebaliknya, data sederhana dapat tampak bernilai tinggi bila diuraikan dengan logika yang tajam dan bahasa yang presisi. Itulah mengapa keterampilan menulis menjadi bagian penting dari publikasi ilmiah.
Struktur paragraf juga berpengaruh besar. Paragraf yang tidak fokus membuat pembaca kehilangan arah, sedangkan paragraf yang tersusun baik membantu reviewer memahami kontribusi penelitian dengan cepat. Dalam banyak kasus, reviewer lebih mudah menerima artikel yang ditulis bersih daripada artikel yang penuh data tetapi kacau penyajiannya.
Karena itu, penilaian reviewer bukan semata-mata soal “benar atau salah” secara ilmiah. Mereka juga mengukur apakah tulisan cukup jelas untuk dipublikasikan dan dibaca oleh komunitas akademik global. Di titik inilah bahasa menjadi penentu.
Bahasa yang sangat buruk dapat menyebabkan desk reject, yaitu penolakan di tahap awal tanpa masuk review mendalam. Ini sering terjadi ketika editor menilai manuskrip terlalu sulit dibaca atau terlalu banyak revisi dasar yang dibutuhkan. Dalam kondisi seperti ini, editor lebih memilih menolak daripada mengirim ke reviewer.
Desk reject biasanya sangat merugikan karena penulis kehilangan waktu dan kesempatan. Lebih parah lagi, penulis sering mengira penolakan tersebut disebabkan oleh kelemahan substansi penelitian, padahal masalah utamanya hanya pada kualitas bahasa. Ini membuat revisi berikutnya tidak tepat sasaran.
Jika naskah terus-menerus ditolak di jurnal berbeda, penulis perlu mengevaluasi ulang cara menulisnya. Bisa jadi masalahnya ada pada abstrak yang tidak fokus, introduction yang tidak menunjukkan gap, atau discussion yang tidak mengaitkan hasil dengan literatur. Semua itu berkaitan erat dengan kemampuan bahasa akademik.
Maka, memperbaiki bahasa bukan sekadar urusan estetika. Ini adalah strategi untuk memperbesar peluang diterima jurnal dan menghindari penolakan administratif sejak awal.
Keterbacaan atau readability sangat penting dalam jurnal internasional. Manuskrip yang mudah dibaca akan membuat reviewer lebih cepat memahami ide inti, metode, dan kontribusi penelitian. Sebaliknya, tulisan yang membingungkan akan memperlambat penilaian dan menurunkan kesan profesional.
Kredibilitas penulis juga ikut dipertaruhkan. Naskah yang ditulis dengan rapi memberi sinyal bahwa penulis serius terhadap risetnya. Ini penting, karena reviewer tidak hanya menilai hasil, tetapi juga kesan umum terhadap kesiapan naskah untuk publikasi.
Bahasa yang baik membantu pembaca mengikuti alur argumentasi tanpa harus menebak-nebak maksud penulis. Akibatnya, hasil penelitian bisa dinilai secara lebih objektif. Ini memberikan keuntungan besar, terutama bagi penulis yang ingin masuk ke jurnal bereputasi tinggi.
Dengan kata lain, kualitas bahasa merupakan investasi penting dalam proses publikasi. Semakin jelas manuskrip ditulis, semakin besar peluangnya lolos review.

Langkah pertama adalah melakukan proofreading secara menyeluruh. Proofreading bukan hanya memeriksa typo, tetapi juga mengecek grammar, konsistensi istilah, dan kejelasan kalimat. Pada tahap ini, penulis harus memastikan bahwa setiap bagian manuskrip mudah dipahami oleh pembaca internasional.
Setelah itu, lakukan academic editing bila diperlukan. Academic editing membantu memperbaiki alur logika, memadatkan kalimat, dan menyesuaikan gaya bahasa dengan standar jurnal. Ini sangat berguna bagi penulis yang hasil penelitiannya kuat tetapi belum terbiasa menulis dalam bahasa Inggris akademik.
Selain itu, penulis perlu memastikan struktur IMRAD sudah benar: Introduction, Method, Results, dan Discussion. Struktur yang rapi memudahkan reviewer memeriksa isi artikel. Bahasa yang baik akan semakin efektif bila dibangun di atas kerangka yang benar.
Jika memungkinkan, mintalah simulasi review sebelum submit. Cara ini membantu menemukan titik lemah yang sering luput dari penulis sendiri, terutama pada bagian bahasa, alur, dan ketepatan istilah.
Bagi penulis yang ingin meningkatkan peluang lolos reviewer, bantuan profesional bisa menjadi solusi yang efisien. Translation Transfer dapat membantu dalam penerjemahan akademik, proofreading, dan perapian bahasa agar manuskrip lebih siap dikirim ke jurnal internasional.
Layanan seperti ini penting terutama untuk penulis yang risetnya sudah matang tetapi belum yakin dengan kualitas English academic writing. Dengan penyuntingan yang tepat, pesan ilmiah bisa tersampaikan lebih jelas, lebih ringkas, dan lebih meyakinkan.
Hasilnya bukan hanya naskah yang lebih enak dibaca, tetapi juga peluang acceptance yang lebih besar. Dalam dunia publikasi, bahasa yang baik sering menjadi pembeda antara revisi berat dan penerimaan.
Kalau manuskrip Anda sudah kuat secara data tetapi masih terasa “berat” di bahasa, saatnya melakukan penyempurnaan sebelum submit. Jangan biarkan riset bagus tertahan hanya karena penyajian yang kurang rapi.
Artikel jurnal Scopus bisa saja ditolak bukan karena data buruk, melainkan karena bahasa akademiknya belum memenuhi standar. Reviewer sangat memperhatikan keterbacaan, struktur argumen, dan ketepatan istilah. Karena itu, memperbaiki bahasa adalah langkah strategis, bukan sekadar pelengkap.
Dengan proofreading yang tepat, academic editing yang rapi, dan penyusunan argumen yang lebih jelas, peluang manuskrip untuk diterima akan jauh lebih besar. Data yang bagus tetap perlu dikemas dengan bahasa yang kuat agar layak bersaing di jurnal internasional.


Postingan Lainnya
Berikan kami kesempatan untuk membantu untuk menemukan layanan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Kami siap melayani Anda kapanpun itu.
Share
