Penerjemah Resmi
by Translation Transfer
Penulis: Cintya Arum Pawesti

Kata “Gratis” Bukan Asli Bahasa Indonesia, Ini Asal Usulnya – Setiap hari kita menggunakan kata “gratis” dengan sangat mudah, di spanduk toko, iklan online, hingga percakapan sehari-hari.
Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya dari mana sebenarnya kata ini berasal? Ternyata, kata “gratis” bukan asli bahasa Indonesia.
Kata ini merupakan serapan dari bahasa asing yang sudah begitu menyatu dalam kehidupan berbahasa masyarakat Indonesia sehingga terasa seperti kata asli.
Mengetahui asal usul kata “gratis” bukan sekadar pengetahuan linguistik biasa, melainkan juga membuka wawasan kita tentang bagaimana bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang melalui kontak dengan budaya lain selama berabad-abad.
Kata “gratis” memiliki akar yang sangat tua, yakni dari bahasa Latin.
Dalam bahasa Latin, gratis berasal dari kata gratia yang berarti “kebaikan hati”, “kemurahan”, atau “anugerah”.
Kata gratia sendiri berhubungan erat dengan gratus yang bermakna “menyenangkan” atau “yang memberi rasa syukur”.
Dari akar kata inilah kemudian lahir berbagai kata dalam bahasa-bahasa Eropa modern, seperti grace (Inggris), grâce (Prancis), dan gracia (Spanyol), yang semuanya mengandung nuansa makna kemurahan hati dan rasa terima kasih.
Dalam penggunaan bahasa Latin klasik, gratis berarti “demi kebaikan” atau “tanpa pamrih”.
Sesuatu yang diberikan bukan karena kewajiban, melainkan karena kerelaan dan kemurahan hati.
Dari bahasa Latin, kata gratis kemudian masuk dan diadopsi ke dalam bahasa Belanda (Nederlands) dengan makna yang sudah lebih spesifik: “tanpa biaya” atau “cuma-cuma”.
Dalam kamus bahasa Belanda modern pun, kata gratis masih digunakan dengan makna yang sama persis dengan yang kita kenal hari ini.
Bahasa Belanda memainkan peran sangat besar dalam pembentukan kosakata bahasa Indonesia modern, terutama karena Belanda menjajah wilayah Nusantara selama lebih dari tiga abad (sekitar 1602–1945).
Selama periode panjang ini, terjadi kontak bahasa yang intensif antara masyarakat pribumi dengan pejabat kolonial, pedagang, dan pendidik Belanda.
Ribuan kata Belanda pun masuk ke dalam bahasa pergaulan masyarakat lokal, termasuk kata gratis.
Kata “gratis” diyakini masuk ke bahasa Indonesia melalui jalur kolonialisme Belanda.
Pada masa penjajahan, banyak konsep dan istilah baru diperkenalkan kepada masyarakat pribumi melalui sistem perdagangan, birokrasi, dan pendidikan ala Belanda.
Kata gratis mulai digunakan secara luas di kalangan masyarakat untuk menggambarkan sesuatu yang diperoleh tanpa perlu membayar.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (dahulu dikenal sebagai Pusat Bahasa) melakukan upaya standardisasi bahasa Indonesia.
Dalam proses ini, banyak kata serapan dari bahasa Belanda yang sudah terlanjur digunakan secara luas oleh masyarakat, termasuk “gratis”, akhirnya diresmikan dan dicantumkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Baca Juga: 21 Kata Bahasa Indonesia yang Masuk Kamus Oxford, Ada Ojek!
Saat ini, kata “gratis” telah resmi tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan definisi: “tidak dengan pembayaran; cuma-cuma”.
Artinya, meskipun bukan kata asli bahasa Indonesia, kata ini sudah sah digunakan dalam konteks formal maupun informal.
Kata “gratis” juga termasuk dalam daftar kata serapan yang tidak mengalami perubahan ejaan signifikan saat diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia.
Berbeda dengan kata serapan lain yang mengalami penyesuaian, seperti systeem (Belanda) → sistem (Indonesia) atau politie (Belanda) → polisi (Indonesia), kata “gratis” dipertahankan hampir persis sama dengan bentuk aslinya dalam bahasa Belanda maupun Latin.
Pertanyaan yang menarik adalah: apakah ada padanan kata “gratis” yang berasal dari kosakata asli bahasa Indonesia atau rumpun bahasa Nusantara?
Beberapa padanan yang sering digunakan antara lain:
Menariknya, dalam komunikasi modern, kata “gratis” jauh lebih populer dan lebih sering digunakan dibandingkan “cuma-cuma”, baik dalam bahasa lisan maupun tulisan.
Hal ini menunjukkan bagaimana kata serapan terkadang menggeser kosakata asli dalam pemakaian sehari-hari.

Masuknya kata “gratis” hanyalah satu contoh kecil dari besarnya pengaruh bahasa Belanda terhadap bahasa Indonesia.
Berikut beberapa bidang yang paling banyak menyerap kata-kata dari bahasa Belanda:
Pengaruh ini begitu dalam sehingga banyak penutur bahasa Indonesia tidak menyadari bahwa kata-kata yang mereka gunakan sehari-hari sebenarnya berasal dari bahasa Belanda.
Baca Juga: Nikah dengan WNA Lalu Cerai: Apa yang Terjadi pada Status WNI?
Berikut beberapa fakta menarik yang perlu kamu ketahui tentang kata “gratis”:
Mempelajari etimologi atau asal-usul kata bukan sekadar pengetahuan akademis. Ada beberapa alasan praktis mengapa hal ini penting:
Dengan memahami akar kata, kita bisa lebih mudah menebak makna kata-kata baru yang belum pernah kita temui sebelumnya, terutama kata serapan dari bahasa Inggris, Latin, atau Belanda.
Dalam dunia penerjemahan profesional, pemahaman tentang etimologi kata sangat penting.
Seorang penerjemah yang handal tidak hanya menerjemahkan kata per kata, tetapi juga memahami konteks historis dan budaya yang melatarbelakangi sebuah kata.
Misalnya, dalam menerjemahkan dokumen hukum yang menggunakan frasa “cuma-cuma” ke bahasa Inggris, seorang penerjemah perlu tahu bahwa padanan yang tepat adalah “gratuitous” atau “free of charge”, bukan sekadar “free”.
Pemahaman tentang mana kata asli dan mana kata serapan juga penting dalam upaya pelestarian dan pengembangan bahasa Indonesia yang kaya dan bermartabat.
Baca Juga: Nikah Campur di Indonesia: KUA atau Catatan Sipil, Pilih yang Mana?
Perjalanan kata “gratis” dari bahasa Latin gratia, masuk ke bahasa Belanda gratis, lalu akhirnya diadopsi ke dalam bahasa Indonesia adalah cerminan nyata dari betapa dinamisnya sebuah bahasa.
Bahasa Indonesia tidak pernah berdiri sendiri, ia tumbuh, menyerap, dan beradaptasi seiring perjalanan sejarah dan budaya bangsa.
Memahami asal usul kata “gratis” mengajarkan kita bahwa di balik kata-kata sederhana yang kita ucapkan setiap hari, tersimpan lapisan sejarah yang kaya dan perjalanan panjang antarbangsa.
Kosakata yang kita anggap “asli” pun ternyata bisa jadi merupakan warisan dari peradaban lain yang telah bersentuhan dengan leluhur kita.
Inilah keindahan dan kekayaan bahasa Indonesia, sebuah bahasa yang inklusif, adaptif, dan terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
Hubungi kami sekarang juga melalui WhatsApp di 0856-6671-475 atau kirim email ke admin@translationtransfer.com untuk konsultasi dan pemesanan layanan.
Anda juga dapat mengunjungi Instagram kami di @translationtransfer untuk mendapatkan informasi terbaru.
Jangan tunda impian untuk memahami dan mendokumentasikan bahasa serta budaya Anda dengan tepat dan profesional.
Sebagai bagian dari warisan linguistik yang kaya, setiap dokumen yang Anda miliki layak diterjemahkan dengan akurat agar maknanya tidak hilang.
Persiapkan dokumen Anda dengan benar dan profesional, baik untuk keperluan hukum, pendidikan, bisnis, maupun budaya.
Bersama Translation Transfer yang terpercaya, proses administrasi menjadi lebih aman, cepat, dan terarah. Kami siap menjadi mitra terbaik Anda dalam menjembatani bahasa dan budaya di era global ini.


